detikcom

KTA DBS Menjebak Nasabah

Jajat Supriatna - suaraPembaca
Rabu, 29/12/2010 13:17 WIB
Jakarta - Pada awal Desember 2010 ibu Alin marketing KTA dari DBS menelpon HP istri saya. Beliau menawarkan KTA dengan bunga 1,5%. Dan kami tertarik dengan bunga yang ditawarkan, maka pada tanggal 9 Desember 2010 pukul 17.00 WIB Ibu Alin dan atasannya Bapak Halim datang kerumah untuk survey sekaligus mengambil data yang diperlukan dan mengajukan pinjaman KTA sebesar 15 juta rupiah a/n Ibu Yuliati.

Pada tanggal 27 Desember 2010 Ibu alin mengirim SMS ke HP istri saya. Beliau menanyakan apakah pengajuan KTA disetujui atau tidak? dan istri saya menjawab bahwa dia tidak tahu karena tidak ada pemberitahuan dari DBS.

Pada tanggal 28 Desember 2010 istri saya inisiatif telpon ke call center DBS di no (021)235665656 untuk menanyakan status pengajuan KTA apakah di setujui atau tidak dan ternyata KTA di setujui dan uangnya sudah ditransfer sebesar 8 juta rupiah dan kena bunga 2,20%.

Lalu istri saya menelpon Ibu Alin sebagai marketing DBS untuk menanyakan kenapa bunga yang di kenakan 2.20% padahal di janjikan 1,50%. Dan di jawab bahwa beliau tidak tahu kenapa bunganya di kasih segitu. Jelas tidak profesional. Lalu Ibu Alin menyarankan untuk menanyakan ke call centernya DBS.

Lalu istri saya pun telpon ke call center DBS dan di jelaskan kalau KTA yang di setujui di bawah 10 juta di kenakan bunga 2.20%. Istri saya pun kaget karena Ibu Alin tidak memberitahukan sebelumnya dan juga aneh biasanya KTA di setujui 80% dari dana yang di ajukan ( pengalaman dengan KTA sebelumnya dengan Bank lain).

Dan ini hanya disetujui sekitar 50% dari pinjaman yang diajukan. Dan yang saya dan istri sesalkan kenapa DBS seolah menjebak dengan hanya memberikan KTA di bawah 10 juta dengan bunga 2,20% tanpa informasi sebelumnya. Saya harap manajeman DBS bisa menjelaskan hal ini.


Jajat Supriatna
Jl. Rawalele RT 03/10 Jakarta
jajat.supriatna@gmail.com
081288616519


(wwn/wwn)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
  • Senin, 26/01/2015 09:04 WIB
    Pertobatan Moral dan Etis Penegak Hukum
    Drama hukum menegangkan bumi nusantara telah digelar nyata, bukan fiksi tapi realita. Sikap maryarakat nyata terbelah, tidak seperti Cicak vs Buaya jilid 1 yang sangat terang menderang seluruh komponen bangsa mendukung dibalik KPK.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
74%
Kontra
26%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?