detikcom

Proses Klaim Perisai Plus Kartu Kredit BNI yang Berbelit-belit

Dewi Miranti - suaraPembaca
Jumat, 17/09/2010 15:08 WIB
FOTO: /ilus ist.
Jakarta - Alm Mama kami semasa hidupnya selalu menggunakan kartu kredit BNI. Bahkan, saya pribadi beserta Papa saya juga pengguna kartu kredit BNI. Singkat kata kami sekeluarga adalah nasabah kartu kredit BNI.

Alm Mama kami meninggal tanggal 31 Mei 2010 dikarenakan menderita penyakit Leukemia Akut yang baru kami ketahui 2 minggu sebelumnya. Sangat singkat sekali memang. Semenjak kami mengetahui penyakit Mama sampai akhirnya Mama kami dipanggil Tuhan. Memang hanya dua minggu Mama kami dirawat dirumah sakit dan untuk itu kami harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dikarenakan Mama kami sempat dirawat di ICU selama 5 hari.

Satu minggu setelah Mama meninggal kami menghubungi BNI Call Center untuk menanyakan manfaat Perisai Plus, prosedur, dan syarat klaim. Pihak BNI menjelaskan manfaat dari Perisai Plus kartu kredit BNI adalah untuk membebaskan pihak keluarga dari hutang nasabah. Salah satunya adalah apabila nasabah tutup usia dan juga memberikan santunan sebesar total hutang.

Mereka juga menjelaskan kepada kami prosedur untuk klaim. Kami harus melampirkan fotokopi KTP Papa dan saya, fotokopi kartu keluarga, surat keterangan kematian dari rumah sakit, dan surat keterangan kematian dari RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan serta membuat surat keterangan ahli waris dari Kelurahan. Dan, proses pencairan ini memakan waktu satu bulan. Itulah informasi yang kami terima dari pihak BNI.

Oleh karena saya dan suami harus bekerja akhirnya Papa saya yang mengurus surat keterangan ahli waris ke kelurahan. Ternyata dalam pengurusan surat tersebut Papa saya harus membayar uang sebesar Rp 1,200,000 kepada pihak kelurahan.

Kami sangat kaget karena sebelumnya kami sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk biaya perawatan di rumah sakit dan proses pemakaman. Belum lagi hutang yang harus kami lunasi untuk biaya perawatan Mama saya selama di RS. Tetapi, karena sudah terlanjur membayar kami ihklas saja dan tanpa menerima bukti pembayaran apa pun dari pihak kelurahan. Kami hanya bisa berharap pengajuan klaim Perisai Plus BNI bisa cair dan bisa membantu meringankan masalah keuangan keluarga kami.

Singkat kata kami siapkan dokumen yang diperlukan dan kami faks kepada pihak BNI. Dua minggu kemudian kami mendapat konfirmasi dari pihak BNI untuk meminta kepada rumah sakit dokumen riwayat penyakit alm Mama saya. Dan, kami urus surat tersebut ke rumah sakit dengan harapan proses klaim kami bisa cair dan berjalan dengan lancar.

Sama seperti sebelumnya kami juga faks surat tersebut ke BNI. Satu minggu kemudian kami mendapat konfirmasi kembali bahwa dokumen perkembangan riwayat penyakit itu tidak bisa terbaca dengan jelas oleh pihak BNI. Akhirnya kami memutuskan untuk mengirim lewat email.

Beberapa minggu kemudian kami menerima konfirmasi harus melengkapi dokumen keterangan surat nikah Papa dan alm Mama saya. Kemudian kami faks kopi surat nikah Papa Mama saya ke pihak BNI. Beberapa minggu kemudian kami mendapat konfirmasi dari pihak BNI mereka meminta saya mengirimkan kembali fotokopi KTP Papa saya dengan alasan kurang jelas. Kemudian kami faks kopi KTP Papa (dengan pembesaran 150%) ke pihak BNI.

Akhirnya pertengahan bulan Agustus saya menelepon ke BNI Call Center untuk menanyakan sudah sejauh mana proses klaim saya. Dan, saya mendapatkan informasi bahwa proses pencairan ini menjadi terhambat dikarenakan Papa dan alm Mama saya memiliki keyakinan (agama) yang berbeda.

Saya tidak mengerti kenapa saya tidak mendapatkan konfirmasi apabila hal ini yang menghambat proses pencairan klaim. Saya harus menghubungi pihak BNI dulu baru mendapatkan informasi tersebut. Sebelumnya saya sudah menghubungi pihak BNI berkali-kali dan mereka selalu meminta saya untuk menunggu.

Beberapa hari kemudian saya mendapakan email dari pihak BNI apabila saya ingin proses klaim kami bisa cair kami harus melengkapi surat keterangan ahli waris yang disahkan oleh notaris. Setelah mendapatkan informasi itu saya semakin tidak mengerti kenapa proses klaim Perisai Plus BNI cukup rumit dan berbelit-belit.

Bila kami harus membuat surat keterangan Ahli Waris di notaris berapa lagi biaya yang harus kami keluarkan. Sementara di kelurahan saja kami sudah harus membayar Rp 1,2 juta. Lalu, apa masalahnya dengan perbedaan agama orang tua saya. Bukankah dengan kartu keluarga, surat keterangan RT, RW, kelurahan, kecamatan, seharusnya sudah cukup menyatakan bahwa benar kami keluarganya.

Pada awal pembuatan kartu kredit saya tidak pernah menyatakan bersedia untuk ikut Program Perisai Plus. Setelah saya konfirmasi ke pihak BNI mereka mengatakan menyertakan nasabah secara otomatis apabila kami tidak mencentang tanda tidak setuju untuk ikut program tersebut pada saat pembuatan kartu kredit. Dan, kami juga tidak pernah menerima penjelasan apa pun mengenai syarat dan prosedur klaim. Apalagi yang menyatakan antara suami istri tidak boleh berbeda agama. Kami tahu memang hal ini tidak umum di Indonesia.

Sampai saat ini sudah tiga bulan lebih dan saya tidak melihat perkembangan apa-apa dari masalah saya ini. Semoga hal tersebut bisa menjadi masukan buat BNI untuk perbaikan yang lebih baik lagi. Terima kasih. 
 
Dewi Miranti
Ciledug Tangerang
dewimiranti_81@yahoo.co.id 
0818729889


(msh/msh)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
ProKontra Index »

Biarkan Ahok Pilih Pendampingnya Pimpin DKI

Siapa bakal pendamping Plt Gubernur DKI Ahok? Masih menjadi pro kontra antara parpol di DPRD DKI dan Kemendagri. Kemendagri memastikan Plt Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo. Setelah diberhentikan sebagai Wagub dan Plt Gubernur dan diangkat menjadi Gubernur, Ahok bisa memilih dua orang untuk menjadi wakilnya. Bila Anda setuju dengan Kemendagri, pilih Pro!
Pro
76%
Kontra
24%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?