detikcom

Penutupan Kartu Kredit Citibank yang Sangat Sulit

Suyono Hadisaputro - suaraPembaca
Rabu, 18/11/2009 15:04 WIB
Jakarta - Kami adalah salah satu pemegang kartu kredit Citibank yang merasa sangat kesulitan untuk menutup kartu kredit tersebut. Di sini kami jelaskan bahwa pengajuan penutupan kartu kredit Citibank ini kira-kira 4-5 bulan yang lalu (sudah lewat dari 6 bulan masa pemakaian sesuai syarat penutupan dari pihak Citibank sendiri).

Kami mendapat jawaban bahwa kartu ini akan ditutup. Mohon abaikan jika ada tagihan karena pada waktu itu saldo kami nol (tidak ada pemakaian sama sekali).

Ternyata per 21 September 2009 muncul tagihan untuk iuran tahunan. Kami sudah coba komplain bagaimana bisa ada tagihan. Kan, kartu sudah dilaporkan ditutup? Jawabannya beda lagi. Katanya harus menunjukkan kartunya. Kan, aneh ini. Begitu kami mengajukan penutupan otomatis kartu sudah kami gunting dan kami buang untuk menghindari penyalahgunaan oleh yang tidak berkepentingan.

Tanggal 21 Oktober 2009 ini ada lagi tagihan tambahan berupa denda keterlambatan. Terakhir, kami mendapat surat penagihan yang isinya jelas jelas menuliskan bahwa " ... meskipun kartu Bapak/Ibu sudah tidak dapat dipergunakan ... ".

Berarti Citibank sudah mengakui kalau kartu ini sudah ditutup. Kami sangat keberatan dan kami tidak bersedia membayar biaya apa pun yang ditagihkan Citibank karena ini bukan kesalahan dari kami ('bukan berarti kami tidak mampu membayar'). Jika pun kami bayar seluruh tagihan yang sekarang menjadi Rp 331,000,00 dan kami tetap tidak bisa menunjukkan bukti guntingan kartu. Berarti tiap tahunnya kami harus tetap bayar Iuran Tahunan.

Kami merasa ini hanya taktik dari Citibank untuk mempersulit prosedur penutupan kartu kredit. Memang diakui kami membuka kartu ini atas bujuk rayu dari Marketing Citibank. Bahwa dengan membuka kartu Citibank mendapat hadiah handphone serta bebas iuran tahunan selama satu tahun. Setelah enam bulan bisa mengajukan penutupan untuk menghindari munculnya tagihan iuran tahunan setelah tahun pertama.
       
Salam,
Suyono Hadisaputro
Surabaya
yanos2007@yahoo.com
03172678610



(msh/msh)

Share:



Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
  • Jumat, 22/08/2014 08:51 WIB
    Lapangan Monas: Alun-alun Republik Indonesia
    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menata kembali manajemen kawasan Monumen Nasional, sehubungan dengan kesemerawutan pedagang kaki lima serta parkir liar di kawasan tersebut.
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
45%
Kontra
55%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?