detikcom

Terkejut Jam Buka Kantor Pos Pusat Jakarta pada Hari Sabtu

Iwan Prandika - suaraPembaca
Senin, 05/05/2008 07:53 WIB
Jakarta - Pada hari Sabtu, 3 Mei 2008 sekitar pukul 13.40 WIB saya bersama kakak dan adik saya datang ke Kantor Pos Pusat Jakarta untuk mengirim surat. Saya terkejut saat mau masuk pintu disambut oleh pernyataan seorang security yang membuka pintu dari dalam kantor berkata, "Kantor Pos sudah tutup!". Padahal di samping pintu terpajang pengumuman "JAM BUKA KANTOR HARI SABTU: Jam 09.00-14.00".

Kemudian kakak saya meminta agar bisa masuk hanya sebentar untuk mengirim surat. Sesampainya di dalam kakak saya protes ke seorang pegawai bagian pengiriman surat mengapa sebelum jam 14.00 sudah tidak menerima pengiriman surat. Padahal saat itu baru sekitar jam 13.40. Dengan santainya petugas tersebut menjawab, "maaf aja sudah tutup, kalau mau pakai perangko saja". Mendengar pernyataan itu saya berlari ke bagian penyedia perangko untuk membeli perangko dan minta stempel pos tanggal itu juga.

Pada saat bersamaan kakak saya masih berdebat dengan pegawai pertama tadi yang tetap berargumen bahwa jam operasional memang sudah berakhir sebelum jam 14.00, dan tentunya sangat aneh karena tidak disebutkan di papan pengumuman bahwa jam operasional berakhir sebelum jam 14.00.

Akhirnya setelah saya masukkan surat ke kotak pos kami berniat pulang. Sesampainya di dekat pintu keluar saya menghampiri seorang security dan saya bilang, "jangan kaget kalau ada keluhan saya di media massa". Security itu malah menantang dengan kalimat, "sekalian aja ditulis alamat yang jelas!" Begitu katanya.

Kemudian kami turun tangga. Tapi, belum seberapa jauh saya balik lagi ke pintu masuk untuk berniat mengambil gambar pengumuman "JAM BUKA KANTOR HARI SABTU: Jam 09.00-14.00". Betapa terkejutnya saya. Saat itu seorang security dari balik pintu keluar dan dengan nada tinggi berkata, "bawa masuk aja ini pembuat onar!" yang langsung mendekati saya dengan sikap kasar.

Melihat situasi ini saya merasa tidak nyaman dan bermaksud menghindar. Akan tetapi security tersebut malah mengejar saya dan dibantu dua orang security lainnya yang kompak keluar dari dalam kantor untuk mengejar saya.

Sambil terus berlari untuk menghindar saya bertanya, "apa-apaan ini? Apa salah saya
pak?". Mereka malah terus mengejar dan berhasil menangkap saya lalu mencengkeram dan menarik-narik tangan saya sembari berkata, "ayo masuk ke kantor!". Saat itu kakak saya membantu saya melepaskan diri dari cengkeraman para security tersebut dan berkata, "lepaskan adik saya! Kita mempunyai hak dalam hukum".

Jangankan mendengarkan seruan kakak saya para security tersebut justru menarik-narik sekalian kakak saya yang berusaha membantu saya melepaskan diri. Saat itu banyak orang-orang yang ada di pelataran Kantor Pos yang menyaksikan kejadian tersebut. Betapa memalukannya saya dipermalukan bak seorang pencuri yang baru tertangkap basah.

Akhirnya kami memutuskan menuruti kemauan para security tadi untuk masuk ke dalam kantor. Di dalam kami bertemu dengan pimpinan kantor pos seorang Ibu (lupa namanya). Anehnya si Ibu tersebut berkata, "memang jam operasional tidak penuh sampai jam 14.00". Sungguh aneh padahal tidak disebutkan seperti itu di papan pengumuman.

Apakah selama ini papan pengumuman hanya berfungsi sebagai pajangan untuk pembodohan customer. Bukan sebagai wahana pelayanan seperti yang seharusnya? Dan apakah selama ini dalam sistem Kantor Pos Pusat Jakarta dan Kantor Pos yang lainnya tidak dilakukan perekrutan security yang dibekali materi pendidikan tentang attitude yang baik dalam melayani customer?

Iwan Prandika
Jl Kotabambu Selatan II/3
Palmerah Jakarta Barat
frandika_2000@yahoo.co.uk
081334005251

(msh/msh)

Share:
Baca Juga



Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
  • Selasa, 26/05/2015 10:37 WIB
    Pengungsi Rohingya Usik Naluri Kemanusiaan Kita
    Pagi hari Selasa, 19 Mei 2015, saya terkesima menyimak sekilas berita salah satu radio nasional tentang nasib ratusan pengungsi Rohingya yang "terdampar" di pantai Timur Pulau Sumatera.
ProKontra Index »

'Bersihkan' Gelar Palsu, Periksa Semua Ijazah Anggota DPR!

Anggota DPR Fraksi Hanura Frans Agung Mula Putra dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) terkait dugaan gelar doktor palsu. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah bersikap tegas meminta ijazah semua anggota DPR diperiksa. Bila Anda setuju dengan usulan Fahri Hamzah, pilih Pro!
Pro
95%
Kontra
5%
Poling Index »

Puaskah Anda terhadap kinerja DPR sekarang?